Latest Entries »

BAB I 

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Guru merupakan sosok yang begitu dihormati lantaran memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah, pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal (Mulyasa, 2005:10).

Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

Ironisnya kekawatiran di dunia pendidikan kini menyeruak ketika menyaksikan tawuran antar pelajar yang bergejolak dimana-mana. Ada kegalauan muncul kala menjumpai realitas bahwa guru di sekolah lebih banyak menghukum daripada memberi reward siswanya. Ada kegundahan yang membuncah ketika sosok guru berbuat asusila terhadap siswanya.

Dunia pendidikan yang harusnya penuh dengan kasih sayang, tempat untuk belajar tentang moral, budi pekerti justru sekarang ini dekat dengan tindak kekarasan dan asusila. Dunia yang seharusnya mencerminkan sikap-sikap intelektual, budi pekerti, dan menjunjung tinggi nilai moral, justru telah dicoreng oleh segelintir oknum pendidik (guru) yang tidak bertanggung jawab. Realitas ini mengandung pesan bahwa dunia guru harus segera melakukan evaluasi ke dalam. Sepertinya, sudah waktunya untuk melakukan pelurusan kembali atas pemahaman dalam memposisikan profesi guru.

Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.

Untuk itulah makalah ini saya susun sebagai bahan kajian bagi guru atau pendidik agar dapat berperilaku dan bersikap profesional dalam menjalankan tugas mulia ini.

 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:

  1. Bagaimana sikap dan perilaku guru yang profesional itu?
  2. Mengapa sikap dan perilaku guru bisa menyimpang?

 

C. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :

  1. Mendeskripsikan penyebab sikap dan perilaku guru bisa menyimpang.
  2. Mendeskripsikan sikap dan perilaku guru yang profesional.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional

Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.

Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahankesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:

  1. Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran,
  2. Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif,
  3. Menggunakan Destruktif Discipline,
    1. Mengabaikan Kebutuhan-Kebutuhan Khusus (Perbedaan Individu) Peserta Didik,
    2. Merasa Diri Paling Pandai Di Kelasnya,
    3. Tidak Adil (Diskriminatif), Serta
    4. Memaksakan hak peserta didik (Mulyasa, 2005:20).

Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:

  1. Kompetensi Pedagogik Adalah Kemampuan Mengelola Pembelajaran Peserta Didik,
  2. Kompetensi Kepribadian Adalah Kemampuan Kepribadian Yang Mantap, Berakhlak Mulia, Arif, Dan Berwibawa Serta Menjadi Teladan Peserta Didik,
  3. Kompetensi Profesional Adalah Kamampuan Penguasaan Materi Pelajaran Luas Mendalam,
  4. Kompetensi Sosial Adalah Kemampuan Guru Untuk Berkomunikasi Dan Berinteraksi Secara Efektif Dan Efisien Dengan Peserta Didik, Sesama Guru, Orang Tua/Wali Peserta Didik, Dan Masyarakat Sekitar. Sikap Dikatakan Sebagai Suatu Respons Evaluatif. Respon Hanya Akan Timbul, Apabila Individu Dihadapkan Pada Suatu Stimulus Yang Dikehendaki Adanya Reaksi Individual. Respon Evaluatif Berarti Bahwa Bentuk Reaksi Yang Dinyatakan Sebagai Sikap Itu Timbul Didasari Oleh Proses Evaluasi Dalam Diri Individu Yang Memberi Kesimpulan Terhadap Stimulus Dalam Bentuk Nilai Baik Buruk, Positif Negati, Menyenangkan-Tidak Menyenangkan, Yang Kemudian Mengkristal Sebagai Potensi Reaksi Terhadap Objek Sikap (Azwar, 2000: 15).

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.

Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya: Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.

Terkait dengan hal di atas, Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain- lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie, 2005:62).

Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.

Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain:

  1. kasih sayang,
  2. penghargaan,
  3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri,
  4. kepercayaan,
  5. kerjasama,
  6. saling berbagi,
  7. saling memotivasi,
  8. saling mendengarkan,
  9. saling berinteraksi secara positif,
  10. saling menanamkan nilai-nilai moral,
  11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati,
  12. saling menularkan antusiasme,
  13. saling menggali potensi diri,
  14. saling mengajari dengan kerendahan hati,
  15. saling menginsiprasi,
  16. saling menghormati perbedaan.

Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.


 

B. Faktor Penyebab Sikap dan Perilaku Guru Menyimpang

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu.

Jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa factor antara lain :

  1. Adanya malpraktik (meminjam istilah Prof Mungin) yaitu melakukan praktik yang salah, miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran.
  2. Kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental, dan emosional, proses belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis layaknya orang tua dengan anaknya.
  3. Kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.

Selain dari ketiga faktor di atas, juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam “Tipologo Plato”, bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: fikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukan di kepala, kemauan berkedudukan dalam dada, dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan, kemauan sumber keberanian, dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu.

Jika pikiran, kemauan, perasaan tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. Perasaan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak dapat berpikir bijak. Agar pendidikan di Indonesia berhasil, paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kemudian mampu mengantisipasinya dengan baik. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dapat dihindari.

Bagaimanapun juga kualitas pendidikan di Indonesia harus mampu bersaing di dunia internasional. Sikap dan perilaku profesional seorang pendidik akan mampu membawa dunia pendidikan lebih berkualitas. Dengan demikian diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.


 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku guru yang profesional adalah mampu menjadi teladan bagi para peserta didik, mampu mengembangkan kompetensi dalam dirinya, dan mampu mengembangkan potensi para peserta didik. Sikap dan perilaku guru yang profesional mencakup enam belas pilar dalam pembangun karakter. Keenam belas pilar tersebut, yakni kasih sayang, penghargaan, pemberian ruang untuk mengembangkan diri, kepercayaan, kerjasama, saling berbagi, saling memotivasi, saling mendengarkan, saling berinteraksi secara positif, saling menanamkan nilai-nilai moral, saling mengingatkan dengan ketulusan hati, saling menularkan antusiasme, saling menggali potensi diri, saling mengajari dengan kerendahan hati, saling menginsiprasi, saling menghormati perbedaan.

Sikap dan perilaku guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhinya berupa faktor eksternal dan internal. Oleh karena itu pendidik harus mampu mengatasi apabila kedua faktor tersebut menimbulkan hal-hal yang negatif.

 

B. Saran

Para pendidik, calon pendidik, dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan mengembangkan sikap-sikap serta perilaku dalam dunia pendidikan melalui teladan baik dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.


 

7 (Tujuh) Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru Dalam Pembelajaran

 

 

 

Pemerintah sering melakukan berbagai upaya  peningkatan kualitas guru, antara lain melalui pelatihan, seminar, dan lokakarya, bahkan melalui pendidikan formal dengan menyekolahkan guru ketingkat yang lebih tinggi. Kendati pun dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun upaya tersebut paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang menunjukkan sebagian besar guru memiliki ijazah perguruan tinggi. Latar belakang pendidikan guru ini hendaknya berkolerasi positif dengan kualitas pendidikan, bersama dengan faktor lain yang mempengaruhinya.

Dalam praktek pendidikan sehari-hari, masih banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam menunaikan tugas dan fungsinya. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak sadari oleh para guru, bahkan masih banyak diantaraya yang menganggap hal biasa. Padahal sekecil apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam pembelajaran akan berdampak negative terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai manusia biasa, tentu saja guru tidak akan terlepas dari kesalahan baik dalam melaksanakan tugas pokok mengajar. Namun bukan berarti kesalahan guru harus dibiarkan dan tidak diacarikan cara pemecahannya.

Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan. Menurut E. Mulyasa (2011:19) dari berbagai hasil kajian menunjukan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru dalam permbelajaran, yaitu ;

 

 

1.      Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran

Tugas guru paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Berbagai kasus menunjukan bahwa diatara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukan alas an yang mendasari asumsi itu.

Asumsi keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehinga banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu system, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka akan menggangu seluruh system tersebut. Sebagai contoh, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melakukan kegiatan pembelajaran., serta merevisi sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan perkembangan zamannya.

Harus selalu diingat mengajar tampa persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya, yang dapat merugikan perkembangan peserta didik, dan mengancam kenyamanan guru.

 

2.     Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negative

Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif , sebaliknya perhatian yang negative akan menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika m;endapat pujian dari guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan .

Namun sayang kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan maateri kepada peserta didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberika pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah.

Biasanya guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika rebut, tidur dikelas, tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut sering kali mendapatkan tanggapan yang salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan perhatian dari guru harus berbuat salah, burbuat gaduh, menganggu atau melakukan tindakan tidak disiplin lainnya. Seringkali terjadi perkelahian pelajar hanya  karena mereka tidak mendapatkan perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan peserta didik tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian dari guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya, tetapi mereka tahu cara menggangu teman, membuat keributan, serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan untuk mendapatkan perhatian.

 

Guru perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukan oleh para peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas prilaku tersebut dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana. tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan member hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kelompok maupun individual.

Menghargai perilaku peserta didik yang postif sungguh memmberikan hasil nyata. Sangat efektif jika pujian guru langsung diarahkan kepada perilaku khusus dari pada hanya diekspresikan dengan pernyataan positif yang sifatnya sangat umum. Sangat efektif guru berkata “termakasih kalian telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh” daripada “kalian sangat baik hari ini”

Disisi lain, guru harus memperhatikan perilaku-perilaku peserta didik yang negatf, dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Guru bisa mencontohkan berbagai perilaku peserta negatif , misalnya melalui ceritera dan ilustrasi, dan memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negative tersebut. Sekali lagi “Jangan menunggu peserta didik berperilaku negative”.

 

3.    Menggunakan Destructive Disclipline

Akhir-akhir ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik, bahkan melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hokum, melanggar tata tertib, melanggar norma agama, criminal, dan telah membawa akibat yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dengan pembelajaran, guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melakukan tindakan disiplin.

Seperti alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki rencana tindakan yang benar, maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang diperbuat, tidak jarang  guru memberikan hukuman diluar batas kewajaran pendidikan, dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan.

Dalam pada itu seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik diluar kelas (PR), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik dan saran untuk kemajuan peserta didik. Yang sering dialami peserta didik adalah guru sering memberikan tugas , tetapi tidak pernah memberi umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktrif, yang sangat merugikan perkembangan peserta didik.

Bahkan tidak jarang tindakan destructive disclipline yang dilakukan oleh guru menimbulkan kesalahan yang sangat fatal yang tidak hanya mengancam perkembangan peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa Timur pernah ada kasus seorang peserta didik mau membunuh gurunya dengan seutas tali raffia, hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan merah pada hasil ulangannya.

 Kesalahan-kesalaha seperti yang diuraikan diatas dapat mengakibatkan penegakan disiplin menjadi kurang efektif, dan merusak kepribadian dan harga diri peserta didik. Agar guru tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  • Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang
  • Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran
  •  Hindari menghina dan mengejek peserta didik
  • Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat
  • Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran.

 

4.    Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik

Kesalahan berikutnya  yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita semua mengetahui setiap peserta didik memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya perilaku-perilaku tersebut cukup normal dan dapat ditangani dengan menciptakan pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi karena guru disekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali sulit untuk membedakan mana perilaku yang wajar atu normal dan mana perilaku yang indisiplin dan perlu penanganan khusus.

Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang social ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan karakteristik umum yang menjadi cirri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.

Sehubungan dengan uraian diatas, aspek-aspek peserta didik yang peru dipahami guru antara lain: kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, ctatan kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi tersebut dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan sekolah, informasi dai peserta didik lain (teman dekat), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri melalui wawancara, percakapan dan autobiografi.

 

 

5.    Merasa Paling Pandai

Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai dikelas. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik disekolahnya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh disbanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan , karena dalam kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya.

Hal ini terjadi terutama di kota-kota besar, ketika peserta didik datang dari keluarga kaya yang dirumahnya memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, serta berlangganan Koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sedangkan guru belum memilikinya. Denan demikian peserta didik yang belajar mungkin saja lebih pandai daripada guru. Jika ini terjadi maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan disebut guru ortodok.

 

6.    Diskriminatif

Pembelajaran ynag baik dan efektif adalah yang mampu memberi kemudahan belajar secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran meupakan kewajiban guru dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangna peserta didik, dan ini merupakan kesalahan guru yang sering dilakukan , terutama dalam penilaian. Penilaian merupakan upayakan untuk mmebrikan penghargaan kepada peserta didik sesuai dengan usaha yang dilakukannya selama proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam memeberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik. Namun demikian tidak sedikit guru yang menyalahgunakan penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau ajang untuk menyalurkan kasih saying diluar tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

Lagu berikut ini mencerminkan guru yang menyalahgunakan penilaian, lagu ini popular pada tahun 1970-an terutama di kalangan siswa perempuan. Berikut syair lagunya:

Ketika aku masih sekolah

Ku punya guru sangatlah muda

Orangnya baik padaku

Apa sebabnya aku tak tahu

 

Kawan-kawanku tahu semua

Aku bukanlah anak yang pandai

Tapi mereka heran padaku

Nilai raportku baik selalu

 

Akhirnya kawan-kawanku tahu

Pak  guru itu cinta padaku

            Jika dimati dengan teliti, syair-syair lagu tersebut menunjukkan ketidakadilan guru dalam memberikan penilaian, betapa seorang guru telah menyalahgunakan penilaian, hanya karena perasaan “C.I.N.T.A nya kepada peserta didik tertentu. Hal ini dari dulu sampai sekarang masih sering dilakukan oleh guru terutama guru muda.

      Sebagai seorang guru, tentu saja harus mampu menghidarkan hal-hal yang dapat merugikan perkembanan peserta didik. Tidak ada yang melarang seorang guru “mencintai” peserta didiknya, tetapi bagaimana menempatkan cintanya secara proporsional, dan jangan mencampuradukkan antara urusan pribadi dengan urusan professional. Usaha yang dapat dilakukan untuk menghindarinya adalah dengan cara menyimpan “perasaan” sampai peserta didik yang  dicintai menyelesaikan program pendidikannya, tentu saja harus ikhlas dan jangan takut diambil orang. 

 

7.    Memaksa hak peserta didik

Memaksa hak peserta didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai akubat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.  Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakkan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku tertentu sangat fatal serta kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orangtua yang tidak mampu.

Kondisi semacam ini sering kali membuat prustasi peserta didik, bahkan di Garut pernah pernah ada peserta didik bunuh diri hanya karena dipaksa untuk membeli alat pelajaran tertentu oleh gurunya. . Kerna peserta didik tersebut tidak memiliki uang atau tidak mampu dia nekat bunuh diri. Ini contoh akibat fatal dari guru yang suka berbisnis disekolah dengan memaksa peserta didiknya untuk membeli. Hindarilah, ingat sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia gaji tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai profesi. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak diakhirat. Percayalah, dan tanyakan pada hati nurani. Jangan mengambik keuntungan sesaat, tetapi menyesatkan. Sadarlah wahai guru, agar namamu selalu sejuk dalam sanubariku. Demikianlah penjelasan E. Mulyasa mengenai 7 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru Dalam Pembelajaran..

Sedangkan menurut  Dr. Wina Sanjaya ( 2005 : 70 ) menyebutkan ada 4 kekeliruan dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru yaitu :

  1. Ketika mengajar, guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkannya sudah dipahami oleh siswa atau belum.
  2. Dalam proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa. Komunikasi bisa terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa bagi siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan mengembangkan kemampuan berpikir.
  3. Guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya.
  4. Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai ” tong kosong ” yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting.

 

 

 

 

 

Sumber :

Mulyasa, E. 2011.Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya

Sanjaya, Wina. 2007.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar ProsesPendidikan.Jakarta: Kencana, Prenada Media Group

 

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

 
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Asalamualaikum Wr. Wb.

 
Udah kangen posting;;; akhirnya sekarang bisa Posting Juga. Oke kali in saya akan membagi sedikit pegetauan saya tentang ” Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah “. Convert Word to Pdf pastinya udah nga asing lagi di telinga orang yang sehari harinya main sama yang namanya Ebook atau File-file penting yang di ketik di Microsoft Word. Nahh biyasanya orang pasti nga ke pengin baca kalo masih di microsoft word.. merekan senegnya yang cuman tinggal baca aja… Ini dia solusi bagi kalian yang kepengin tau cara Convert Word To Pdf. Saya mengunakan Software yang namanya doPDF. oke dehh langsung aja.. gimana cara Convert Word to Pdf.

Silahkan Yang mau Downoad Software DoPdf Di sini.

  • Kita Buka Dulu Softwarenya

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah
 

  • Kalo udah kebuka Softwarnya…. tampilannya akan Seperti ini

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

  • Trus Kita Pilih Dehh File Word yang akan Kita Convert

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

  • Udah Dipilih… Lanjutnya Tinggal Klik Create

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

  • Setelah itu akan muncul tampilan seperti ini……

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

  • Pilih Brouse untuk meletakan hasil dari Convernya nanti

Cara Convert Word Ke Pdf Dengan Mudah

  • Kalo udah tinggal Klik Ok .. Tunggu Beberapa saat maka Hasil Covert pun Muncul… Berarti Kalian telah berhasil melakukan Convert dari Word To Pdf.
Silahkan Yang mau Downoad Software DoPdf
 Downoad Software DoPdf
 Download Mediafire 4 MB
Pass : www.galedeg.blogspot.com

 Downoad Software DoPdf
 Download Indowebster 4 MB
Pass : www.galedeg.blogspot.com
 
Okedehhh Cukup sekian dulu ya… Bila ada kata kata yang kurang berkenang saya mohon maaf yang sebesar besarnya Akhir kata….. Wasalamualaikim Wr. Wb.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Sekilas EMIS

Education Management Information System. EMIS diawali dari proyek ADB yaitu JSEP-ADB loan thn 1994-1998. Kemudian berlanjut tahun 1998 menjadi BEP-DMAP. Sumber awal pendanaan kegiatan EMIS berasal dari ADB melalui proyek2 JSEP, BEP dan DMAP. Sejak TA 2001, seluruh kegiatan EMIS dibiayai oleh APBN hingga sekarang. Sumber awal pendanaan kegiatan EMIS berasal dari ADB melalui proyek2 JSEP, BEP dan DMAP. Sejak TA 2001, seluruh kegiatan EMIS dibiayai oleh APBN hingga sekarang. Sejak TA 2001, seluruh kegiatan EMIS dibiayai oleh APBN hingga sekarang. http://emispendis.kemenag.go.id/ atau http://emispendis.kemenag.go.id/emis-appss/

TUGAS PENGANTAR STATISTIK PENDIDIKAN STAI MADIUN 2012/2013
Nama : NURKHOLIS
Kelas / No. Absen : VII B / 17
Jurusan : Tarbiyah PAI

Diket data:
Subjek Sekor pada variabel
X Y XY X2 Y2 d(x-y) d2(x-y)2
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J 8
4
6
5
7
4
9
6
5
6 5
5
7
6
6
5
6
7
6
7 40
20
42
30
42
20
54
42
30
42 64
16
36
25
49
16
81
36
25
36 25
25
49
36
36
25
36
49
36
49 3
-1
-1
-1
1
-1
3
-1
-1
-1 9
1
1
1
1
1
9
1
1
1
10 = N 60 60 362 384 366 0 26

Ho = 0 (tidak ada korelasi positif yang signifikan antara skor variabel X dan skor variabel Y
Ha = ada korelasi positif yang signifikan antara skor variabel X dan skor variabel Y
Cx = 

Data:
Sekor variabel X
65 68 75 94 85 93 64 67 58 50
82 88 63 80 83 92 95 74 62 84
68 73 78 59 77 70 68 62 92 93
70 56 87 89 62 79 88 84 78 74

Sekor variabel Y
68 72 77 94 89 97 67 69 62 54
83 90 67 84 87 94 99 77 63 84
68 75 80 61 79 70 72 60 92 96
73 58 87 90 60 89 87 85 79 74

Dit. rxy =…?
Jawab:
Sekor pada variabel
X Y XY X2 Y2 d(x-y) d2(x-y)2
65 68 4420 4225 4624 -3 9
82 83 6806 6724 6889 -1 1
68 68 4624 4624 4624 0 0
70 73 5110 4900 5329 -3 9
68 72 4896 4624 5184 -4 16
88 90 7920 7744 8100 -2 4
73 75 5475 5329 5625 -2 4
56 58 3248 3136 3364 -2 4
75 77 5775 5625 5929 -2 4
63 67 4221 3969 4489 -4 16
78 80 6240 6084 6400 -2 4
87 87 7569 7569 7569 0 0
94 94 8836 8836 8836 0 0
80 84 6720 6400 7056 -4 16
59 61 3599 3481 3721 -2 4
89 90 8010 7921 8100 -1 1
85 89 7565 7225 7921 -4 16
83 87 7221 6889 7569 -4 16
77 79 6083 5929 6241 -2 4
62 60 3720 3844 3600 2 4
93 97 9021 8649 9409 -4 16
92 94 8648 8464 8836 -2 4
70 70 4900 4900 4900 0 0
79 89 7031 6241 7921 -10 100
64 67 4288 4096 4489 -3 9
95 99 9405 9025 9801 -4 16
68 72 4896 4624 5184 -4 16
88 87 7656 7744 7569 1 1
67 69 4623 4489 4761 -2 4
74 77 5698 5476 5929 -3 9
62 60 3720 3844 3600 2 4
84 85 7140 7056 7225 -1 1
58 62 3596 3364 3844 -4 16
62 63 3906 3844 3969 -1 1
92 92 8464 8464 8464 0 0
78 79 6162 6084 6241 -1 1
50 54 2700 2500 2916 -4 16
84 84 7056 7056 7056 0 0
93 96 8928 8649 9216 -3 9
74 74 5476 5476 5476 0 0
40 = N 40 =N 241372 235123 247976 -83 355

X 35 36 37 38 39 40 41 42 F(Y) Y1 FY F(Y)2 X1Y1
Y
63
62
61
60
59
58
57
56
F(X)
X1
FX1
FX2
X1Y1

Diket data suatu penelitian:
Sekolah Asal dan Prestasi Tes SMNPTN dari 1700 Calon

Prestasi Tes SMNPTN Sekolah Asal Jumlah
SLTA Negeri SLTA Swasta
Lulus 270 (a) 470 (b) 740
Tidak lulus 180 (c) 840 (d) 1020
Jumlah 450 1310 1760

Dit
 = …?
rxy = …?
Jawab
Ha = ada korelasi yang signifikan antara keikutsertaan lulusan SLTA dalam tes SMNPTN dengan sekolah asal.
Ho = tidak ada korelasi yang signifikan antara keikutsertaan lulusan SLTA dalam tes SMNPTN dengan sekolah asal.
 = ((ad-bc))/√((a+b)(a+c)(b+d)(c+d) )
= ((270.840)- (470.180))/(√(270+470)(270+180)(470+840)(180+840))
= 142200/( √4449546.1011)
= 142200/1,63568564.1010
= 8,69360203.10-7
Interpretasi:  dianggap sebagai rxy
df = N – nr = 1760 – 2 = 1758 (konsultasi tabel “r”, dalam tabel tidak dijumpai df 1758. Maka digunakan df sebesar 1000, diperoleh rtabel pada taraf signifikan 5% = 0,062 sedang pada taraf signifikan 1% = 0,081.
Dengan demikian  yang kita peroleh (8,69360203.10-7 ) lebih kecil jika dibandingkan dengan rtabel (0,062 dan 0,081) maka H0 diterima / disetujui, berarti tidak terdapat korelasi yang signifikan antara keikutsertaan lulusan SLTA dalam tes SMNPTN dengan sekolah asal.

Diket data suatu penelitian:
Kegiatan Dalam Organisasi Extra Universiter Dan Prestasi Studi
Dari Sejumlah 600 Orang Mahasiswa
Kegiatan Dalam Organisasi Extra Universiter Prestasi Studi Jumlah
Baik Cukup Gagal
Aktif 20 70 60 150
Kurang Aktif 30 245 75 350
Tidak Aktif 40 45 15 100
Jumlah 90 360 150 600

Dit:
C atau KK
Interpretasi terhadap C atau KK ()
Jawab:
x^2= ((f_0-f_t ) ^2)/f_t
Sel fo ft (fo-ft) (fo-ft) (fo-ft)2
ft
20 (90 x 150)/600 = 22,5 -2,5 6,25 0,2778
70 (360 x 150)/600 = 90 -20 400 4,4444
60 (150 x 150)/600 = 37,5 22,5 506,25 13,5
30 (90 x 350)/600 = 52,5 -22,5 506,25 9,6429
245 (360 x 350)/600 = 210 35 1225 5,8333
75 (150 x 350)/600 = 87,5 -12,5 156,25 1,7857
40 (90 x 100)/600 = 15 25 625 41,6667
45 (360 x 100)/600 = 60 -15 225 3,75
15 (150 x 100)/600 = 25 -10 100 4
Jumlah 600 = N 600 = N 0 = (fo-ft) – 84,90078 =〖 x〗^2

C=〖√(x^2/(x^2+N))〗^
C=√((84,90078 )/(84,90078 +600 ))
C=0,3521

INTERPRETASI
Ha = ada korelasi positif yang signifikan antara kegiatan dalam organisasi Extra Universiter dan Prestasi Studi
Ho = tidak ada korelasi positif yang signifikan antara kegiatan dalam organisasi Extra Universiter dan Prestasi Studi
 = C/√(1- C^2 ) = 0,3521/√(1- 〖(0,3521)〗^2 ) = 0,3521/√(1- 0,1057 ) = 0,3521/0,9457 = 0,3438

Harga  dikonsultasikan dengan tabel “r” product moment,
df = N – nr = 600 – 2 = 598
nilai “r” product moment tidak diperoleh df sebesar 598 maka digunakan df sebesar 500 dengan harga rtabel pada taraf signifikansi 5% = 0,088 sedang pada taraf signifikansi 1% = 0,115. Dengan demikian  dari perubahan terhadap C atau KK lebih besar daripada rtabel maka Hipotesis Nol ditolak.

Diket data:

66 75 74 72 79 78 75 75 79 71
75 76 74 73 71 72 74 74 71 70
74 77 73 73 70 74 72 72 80 70
73 67 72 72 75 74 74 68 69 80

Ditanya:
Daftar distribusi frekuensi dan histogramnya
Mean, modus, median dan simpangan interquartil
Simpangan bakunya
Jawab:
Daftar distribusi frekuensi

Interval fi xi fixi fixi2
66 – 68 3 67 201 13467
69 – 71 7 70 490 34300
72 – 74 18 73 1314 95922
75 – 77 7 76 532 40432
78 – 80 5 79 395 31205
40 365 2932 215326

Histogram

Mean, modus, median dan simpangan interquartil
Mean Mx = (“” fX)/N = 2933/40 = 73,325
Modus / data yang sering muncul: 74
Median =(73+74)/2=73,5
Simpangan interquartil
Q_n=l+((1/4 N-〖fk〗_b)/f_i )
Q_1=68,5+((1/4 ×10-3)/7)
Q_1=68,5+((2,5-3)/7)
Q_1=68,5+(0,5/7)
Q_1=68,5+0,07
Q_1=68,57
Q_3=74,5+((3/4 ×30-28)/7)
Q_3=74,5+((22,5-28)/7)
Q_3=74,5+(-5,5/7)
Q_3=74,5 -0,8
Q_3=73,7

SK=1/2 (K_3- K_1 )
SK=1/2 (73,3- 68,57)
SK=1/2 ×5,13
SK=2,565
Jadi, Simpangan interquartil adalah SK = 2,565

Simpangan bakunya
s^2=(n∑▒〖f_i 〖x_i〗^2 〗- (∑▒〖f_i x_i 〗)^2)/n(n-1)
s^2=(40×215326- (2932)^2)/40(40-1)
s^2=(8613040-5721664 )/(40×39)
s^2=2891376/1560
s=√1853,446154
s=43,05

Diket data:
Tinggi badan

Berat Badan Tinggi Pendek Jumlah
Berat 28 11 39
Ringan 13 27 40
Jumlah 41 38 79

Dit  =⋯?
Jawab:  = ((ad-bc))/√((a+b)(a+c)(b+d)(c+d) )
= ((28 . 27)- (11 . 18))/(√(28+11)(28+18)(11+27)(18+27))
= (756-198)/( √(39 . 46 . 38 . 45 ))
= 558/1751,497
= 0,3186

df = N – nr = 79 – 2 = 77
dalam tabel tidak dijumpai df sebesar 77 maka digunakan df sebesar 80. Maka diperoleh rtabel pada taraf signifikansi 5% = 0,217 sedangkan pada taraf signifikansi 1% = 0,283.
 yang diperoleh lebih besar dibandingkan rtabel (0,217 dan 0,283), maka Ho ditolak berarti ada korelasi positif antara tinggi badan dan berat badan.

Skema macam-macam data statistik:

Keterangan:
Data statistik dibedakan menjadi:
Berdasarkan sifatnya:
Data kontinyu adalah data yang angka-angkanya merupakan deretan angka yang sambung-menyambung. Contoh: data urutan statistik mengenai berat badan dalam ukuran kilogram 40 – 40,1 – 40,2 – 40,3 dan seterusnya.
Data diskrit adalah data statistik yang tidak mungkin berbentuk pecahan. Misalnya, data statistik tentang jumlah anggota keluarga (dalam satuan orang): 1-2-3-4-5-6 dan seterusnya.
Berdasarkan cara menyusun angkanya:
Data nominal adalah data statistik yang cara menyusun angkanya didasarkan atas penggolongan atau klasifikasi tertentu, contoh:
Data statistik tentang jumlah siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Tahun Ajaran 2010/2011 yang dilihat dari segi tingkat kelas dan jenis kelamin
Kelas Jenis kelamin Jumlah
Pria Wanita
I 50 34 84
II 48 44 92
III 72 52 124
Jumlah 170 130 300
Data ordinal (data urutan) adalah data statistik yang cara menyusun angkanya didasatrkan atas urutan kedudukan (ranking). Misalnya:
Angka 1, 2, 3, 4 dan 5 pada kolom terakhir kita sebut data ordinal (urutan 1 = juara pertama, urutan 2 = juara 2, urutan 3 = juara 3, urutan 4 = juara harapan I dan urutan 5 = juara harapan II)
Nomor Urut Nomor Undian Nama Skor Urutan Kedudukan
032 Suyitno 452 5
045 Sunaryo 458 4
113 Pamuji 552 2
085 Juwono 526 3
062 Kusno 587 1

Data interval adalah data statistik dimana terdapat jarak yang sama diantara hal-hal yang sedang diselidiki/ dipersoalkan. Misalnya angka 1, 2, 3, 4, dan 5 adalahdata ordinal, sedangkan angka 458, 532, 542, 560 dan 578 itulah yang disebut data interval.
Berdasarkan bentuk angkanya:
Data tunggal ialah data statistik yang masing-masing angkanya merupakan satu unit / kesatuan ( data statistik yang angka-angkanya tidak dikelompok-kelompokkan, misalnnya:
Data nilai hasil ulangan harian 40 orang siswa SMP Negeri dalam bidang Matematika adalah sebagai berikut:
66 75 74 72 79 78 75 75 79 71
75 76 74 73 71 72 74 74 71 70
74 77 73 73 70 74 72 72 80 70
73 67 72 72 75 74 74 68 69 80

Data kelompokan ialah data statistik yang tiap-tiap unitnya terdiri dari sekelompok angka. Misalnya:
Nilai: 80 – 84
75 -78
80 – 83
dan seterusnya

Berdasarkan sumbernya:
Data primer adalah data statistik yang diperoleh / bersumber dari tangan pertama. Contoh : data tentang alumni SMA Negeri yang diperoleh dari bagian kesiswaan dan Alumni SMA Negeri.
Datasekunder adalah data yang diperoleh / bersumber dari tangan kedua.
Contoh: data tentang alumni SMA Negeri yang diperoleh dari surat kabar, berita radio dan sebagainya.

Berdasarkan waktu pengumpulannya:
Data seketika adalah data statistik yang mencerminkan keadaan pada satu waktu saja, misal:
Data statistik tentang jumlah tenaga pengajar di SMA Negeri tahun ajaran 2010/2011.
Data urutan waktu adalah data statistik yang mencerminkan keadaan atau perkembangan mengenai suatu hal dari satu waktu ke waktu yang lain secara berurutan. Misal:
Data statistik tentang jumlah tenaga pengajar di SMA Negeri mulai tahun ajaran 2005/2006 sampai dengan tahun ajaran 2010/201.1

Menjelaskan penggunaan teknik korelasi:
Teknik Korelasi Product Moment
Digunakan bila kita berhadapan dengan kenyataan berikut ini:
Variabel yang kita korelasikan berbentuk gejala atau data yang bersifat kontinyu
Sampel yang diteliti mempunyai sifat homogen atau setidak-tidaknya mendekati homogen
Regresinya merupakan regresi linear
Teknik Korelasi Koefisien Phi
Digunakan apabila data yang dikorelasikan adalah data yang benar-benar dikotomik (terpisah/dipisahkan secara tajam), dalam istilah lain: variabel yang dikorelasikan itu adalah variabel diskrit murni, misalnya laki-laki – perempuan, hidup – mati. Apabila variabelnya bukan merupakan variabel diskrit dan kita ingin menganalisis data tersebut dengan menggunakan Teknik Korelasi Koefisien Phi maka variabel tersebut harus diubah menjadi variabel diskrit terlebih dahulu.

Teknik Korelasi Koefisien Kontingensi
Digunakan apabila ada dua buah variabel yang dikorelasikan dan berbentuk kategori (merupakan gejala ordinal) dan bersifat diskrit (terpisah menjadi dua kutub yang ekstrem), misalnya Tingkat Pendidikan:: tinggi, menengah dan rendah. Pemahaman Terhadap Ajaran Agama Islam: baik, cukup, kurang dan sebagainya.

Teknik Korelasi Yule’s Q

Alamat Website NISN | Nomor Induk Siswa Nasional Terbaru PDF Cetak E-mail
 

Nomor NISN | Nomor Induk Siswa Nasional TK, SD, SMP,SMA, Perguruan Tinggi Terbaru- Penataan di bidang administrasi birokrasi pemerintahan khususnya dalam bidang pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah.  Salah satu produk dari penataan dari reformasi birokrasi adalah dengan dibuatnya sistem penomoran Standar Siswa Nasional ini.  Pengertian NISN merupakan singkatan dan kependekan dari Nomor Induk Siswa Nasional.  Nomor ini sendiri merupakan nomor tunggal dari Siswa / Siswi SMP, SMA, MTs, Mi, SMK, MA.

NISN | Nomor Induk Siswa Nasional
Alamat Website NISN | Nomor Induk Siswa Nasional Terbaru

Saat ini setiap Siswa / Siswi memiliki Nomor Induk TK, SD, SMP, SMA, maupun perguruan Tinggi. Walaupun sudah diberlakukan, tetapi masih banyak siswa yang belum tahu bagaimana mengetahui Nomor Induk Siswa dan berapa Nomor Siswa Nasional nya.  Nah pada kesempatan kali ini kami akan memberikan informasi berapa dan bagaimana mencari Informasi mengenai Nomor NISN Siswa TK , SD , SMP , SMA Negeri maupun Swasta.

Peranan dari Nomor NISN sendiri merupakan layanan sistem pengelolaan nomor induk siswa secara nasional yang merupakan bagian dari program DAPODIK (Data Pokok Pendidikan).  Standar Nomor nasional Siswa TK , SD, SMP, SMA Negeri / Swasta serta Perguruan Tinggi ini dibangun oleh Bagian Sistem Informasi Biro Perencanaan Depdiknas tahun 2006/2007 lalu yang bertujuan untuk kemajuan Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Layanan Standar Nomor Nasional N I S N menerapkan sistem komputerisasi yang terpusat dan online untuk pengelolaan nomor induk siswa skala nasional sesuai Standar Pengkodean yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional . Setiap siswa yang terdaftar pada Layanan NISN akan diberi kode pengenal identitas siswa yang bersifat unik, standar dan berlaku sepanjang masa yang membedakan satu siswa dengan siswa lainnya di seluruh sekolah se-Indonesia.

Adapun bagaimana Cara menentukan Nomor N I S N ini adalah prosesnya dilakukan secara otomatis oleh mesin komputer pada Pusat Layanan NISN.  Penentuan dan pemberian kode pengenal identitas siswa tersebut berdasarkan pengajuan atau masukan (entry) sumber data siswa yang telah divalidasi/diverifikasi oleh setiap sekolah dan atau Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten secara online melalui web operator masing-masing. Hasil dari proses pemberian kode identifikasi oleh Pusat Sistem.

Sebelumnya untuk mencari Nomor NISN ini kita mengakses website yang beralamatkan di http://nisn.dapodik.org.  Tetapi sesuai dengan surat edaran no. 1980/P3/TP/2011 tanggal 14 September 2011 dari PDSP Kemdiknas perihal pemberitahuan pelayanan Sistem Layanan DAPODIK versi terbaru.  Maka alamat website Pencarian Nomor NISN ini berubah menjadi http://nisn.data.kemdiknas.go.id.  Berikut ini merupakan Surat Edaran Nomor 1980/P3/TP/2011 tentang Alamat Website Nomor NISN Terbaru yang mulai diberlakukan 1 Januari 2012.

MAKALAH

MEMAHAMI AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN AL-HADIST TENTANG TOLERANSI DAN ETIKA PERGAULAN

DisusunOleh :
ROFIKUL ANAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA(UII) STAIM
FAKULTAS TARBIYAH SEMESTER 3A
2012
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah.
Pendidikan Al-Qur’an dan Hadist di Madrasah Aliyah sebagai landasan yang integral dari pendidikan Agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik, tetapi secara substansial mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadist memiliki kontribusi dalam memberikan motifasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan kegamaan (tauhid) dan Ahlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadist adalah bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Ibtidaiyah yanbg dimaksud untuk memberikan motivasi, bimbingan, pemahaman, kemampuan dan penghayatan terhadap isi yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadist sehingga dapat diwujudkan dalam pertilaku sehari – hari sebagai manifestasi iman dan taqwa kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah.
Memahami ayat-ayat al-qu’ran dan al-hadist tentang toleransi dan etika pergaulan.

1.3 Tujuan penulisan.
Sejalan dengan persoalan yang telah dikemukakan diatas, penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui Telaa’ah materi Al-quran Hadist Madrasah Aliyah dari kelas dua semester 2 sampai kelas tiga.
2. Memberikan penjelasan tentang surah-surah yang akan dipelajari.
3. Dapat mengetahui metode yang tepat dilakukan dalam pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

KELAS XII SEMESTER II
1. Memahami ayat-ayat al-Qur’an dan hadist tentang toleransi dan etika pergaulan.
1.1 Mengartikan Q.S. al-kafirun: 1-6; Q.S. Yunus: 40-41; Q.S. Al-kahfi: 29; Q.S.Al-Hujurat; 10-13 dan hadist tentang etika pergaulan.

Al-Qur’an surah Al-kafirun ayat 1-6
Artinya: “katakanlah (Muhammad); hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah (Tuhan) yang kamu sembah. Dan kamu tidak usah menyembah (Tuhan) yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menyembah (Tuhan) yang kamu sembah. Dan kamu tidak akan pernah menyembah (Tuhan) yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Q.S. Al-Kafirun:1-6) [8]

Al-Qur’an surah Yunus ayat 40-41
Artinya: “Dan diantara kamu ada orang-orang yang beriman kepada (Al-Qur’an),dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Dan Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika mereka tetap mendustakan kamu (Muhammad), maka katakanlah; Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan, dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Yunus:40-41)

Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 29
Artinya: “Dan katakanlah (Muhammad); “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan mereka meminta pertolongan (minum), niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih menghanguskan muka. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Q.S. Al-Kahfi: 29)

Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 10-13
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita yang (diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang (memperolok-olokkan). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling panggil gelar-gelar yang buruk. Panggilan yang buruk ialah (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat ,maka mereka itu lah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman. Janganlah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Suka kah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaramu yang sudah mati; maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhny Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhmya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi MahaMengenal.” Q.S. Al-Hujurat:10-13)

Hadist tentang etika pergaulan
عمروبن عن شعيب عن ابي هريرة رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : خمس من حق المسلم على المسلم ردالتحية واجابة الدعوة وشهودالجنازة وعيادة المريض وتشميت العاطش اذاحمدالله . ( رواه ابن ما جه)
عن مقدام بن معدي قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : مثل المؤمنين فى توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد, اذااشتكى منه عضو تدا عى له سائرالجسد بالسهروالحمى . (رواه البخارى ومسلم)

Artinya: “Dari Amer bin Syu’aib dari Abu Hurairah r.a. berkata; Rasulullah saw. bersabda; Ada lima kewajiban seorang mukmin untuk memenuhi hak muslim yang lain; yaitu, 1) menjawab salam 2) memenuhi undangan 3) menghadiri kematian 4) menengok orang sakit 5) mendo’akan orang yang bersin ketika memuji Allah” (H.R. IbnuMajah)
“Dari miqdam bin Ma’di berkata; Rasulullah saw. bersabda; Gambaran antara sesama mukmin dalam saling mencintai, mengasihi dan berbagi rasa bagaikan tubuh manusia, bila satu anggota daintaranya sakit maka seluruh anggota akan merasakan gundah atau sakit panas.” (H.R.Bukhari dan Muslim)
1.2 Menjelaskan kandungan Q.S. Al-Kafirun:1-6; Q.S. Yunus:40-41; Q.S. Al-Kahfi:29; Q.S. Al-Hujurat:10-13 dan hadis tentang etika pergaulan.

1. Q.S. Al-Kafirun ayat 1-6
Surat Al-Kafirun menjelaskan bahwa umat islam harus memilik isikap toleransi terhadap sesama, baik dalam kehidupan social ekonomi, politik, budaya maupun agama. Dengan sesama umat yang seagama kita harus saling menghormati dan menghargai, meskipun terdapat perbedaan mazhab, sekta, paham keagamaan dan lainnya. Kepada sesama pemeluk agama kita harus saling menghormati, bersikap toleran dan menghargai agama dan keyakinannya masing-masing.

2. Q.S. Yunus ayat 40-41
Ayat ini menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat toleran. Tidak ada paksaan untuk memeluk suatu agama, termasuk agama islam. Namun jika seseorang telah menyatakan diri masuk islam maka ia dituntut untuk melaksanakan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.

3. Q.S. Al-Kahfi ayat 29
Ayat ini mengandung makna bahwa di dunia ini tidak semua orang beriman kepada Allah SWT.., diantara manusia manusia penghuni muka bumi ini ada saja yang enggan dan menolak beriman kepada Allah SWT. Mereka enggan menerima Islam sebagai agama yang harus dianutnya, dan senantiasa memilih menjadi kafir sesuai dengan keyakinannya.

4. Q.S. Al-Hujurat ayat 10-13
Ayat ini menjelaskan bahwa seorang muslim yang beriman adalah bersaudara dengan muslim yang lainnya. Persaudaraan mereka tidak terhalang oleh genetika dan keturunan, melainkan di ikat oleh agama dan keimanan.

5. Hadist tentang etika pergaulan
Dalam hadist yang pertama Rasulullah saw. Menjelaskan bahwa setiap muslim mempunyai hak dan kewajiban yang mendasar atas muslim yang lainnya. Misalnya, menjawab salam, memenuhi undangan, menghadiri jenazah, dan sebagainya. Hal tersebut tampak sederhana, tapi sesungguhnya mengandung hikmah dan manfaat yang cukup besar bagi terciptanya tata pergaulan yang harmonis damai.
Dalam hadis yang kedua, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa persatuan dan kebersamaan umat islam itu harus dijalin dengan baik, tidak hanya persaudaraan fisikal tapi juga persaudaraan batin, yang menyangkut rasa, hati, jiwa. Dengan demikain, satu sama lain saling mendukung dan menyempurnakan kekurangan saudaranya, menikamat ikeberhasilan saudaranya, saling menasihati dalam kebaikan dan sebagainya

BAB III
ANALISIS

Setelah kami menela’ah dan mengklasifikasikan materi Al qur’an Hadist Madrasah Aliyah, yaitu sebagai berikut:

a. Aspek kognitif.
Di dalam mata pelajaran Al-qur’an hadist siswa akan mendapat banyak pengetahuan tentang agama yang meliputi pengetahuan Memahami ayat-ayat al-qu’ran dan al-hadist tentang toleransi dan etika pergaulan, berkompetisi dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar, ujian dan cobaan dan masih banyak lagi.
Siswa disuguhi beberapa materi tentang ayat-ayat Al-qur’an dan disitu dijelaskan tentang isi kandungannya dan manfaat mengaplikasikan ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Mengartikan Q.S. Al-qashas 79-82, Al-isra’ 26-27-29-30, Q.S. Albaqarah:177, menjelaskan kandungannya, disitu para siswa akan mengetahui dan mendaatkan pengetahuan tentang semua itu.

b . Aspek afektif.
Setelah para siswa mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-qur’an , mereka dituntut untuk bisa menerapkan dan mengamalkan isi kandungan ayat tersebut agar menjadi manusia yang pandai dan bersyukur kepada Allah. Mereka sebisa mungkin dibiasakan untuk bersikap dan berperilaku menurut isi kandungan ayat-ayat tersebut misalnya, pola hidup sederhana, berkompetisi dalam kebaikan, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dll.
Para siswa disuruh untuk Memahami ayat-ayat al-qu’ran dan al-hadist tentang toleransi dan etika pergaulan, menerapkan perilaku berkompetesi dalam kebaikan, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan menerapkan perilaku tabah dan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan.
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Al-Qur’an dan Hadist di Madrasah Aliyah sebagai landasan yang integral dari pendidikan Agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik, tetapi secara substansial mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadist memiliki kontribusi dalam memberikan motifasi kepada peserta di diperuntukan mempraktekkan nilai-nilai keyakinan kegamaan (tauhid) dan Ahlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadist adalah bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Ibtidaiyah yang dimaksud untuk memberikan motivasi, bimbingan, pemahaman, kemampuan dan penghayatan terhadap isi yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadist sehingga dapat diwujudkan dalam pertilaku sehari – hari sebagaimana ifestasi iman dan taqwa kepada Allah SWT
.
B. Saran.
Telaa’ah materi Al-qur’an Hadist adalah suatu penyelidikan pada materi yang menjadi bahan untuk diujikan dan dievaluasi kembali kebenaran dari materi tersebut. Pada materi Al-qur’an hadist Madrasah Aliyah sudah baik, namun ada bebrapa sub bab yang perlu di perbaiki.

DAFTAR PUSTAKA

H.A. Wahid sy. 2008. Al-qur’an Hadist Madrasah Aliyah kelas XI Semester I dan II. Bandung: CV Armico.

H.A. Wahid sy. 2008. Al-qur’an Hadist Madrasah Aliyah kelas XII Semester I dan II. Bandung: CV Armico.

________________________________________

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanir rohim
Segala puji bagi Allah yang dengan kasihnya telah melimpahkan rohmat dan karunianya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“MEMAHAMI AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN AL-HADIST TENTANG TOLERANSI DAN ETIKA PERGAULAN”

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat tuntunan Allah SWT dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada
Bapak Ibnu selaku dosen Materi PAI MA dan semua teman-teman yang turut mendukung dan memberi masukan dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis dengan rendah hati dan tangan terbuka menerima saran dan kritikan guna dalam penyempurnaan makalah ini. Penulis berharap Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca. Amin……
Alhamdulillahir robbil alamin

Madiun

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………….
Pembahasan……………………………………………………………………………..
 Memahami,ayat-ayat al-Qur’an dan hadis tentang toleransi dan etika pergaulan.
 Hadist tentang etika pergaulan
Analisis…………………………………………………………………………….
Penutup……………………………………………………………………………………….
 Kesimpulan dan saran…………………………………………………………………….
 Daftar pustaka…………………………………………………………………………………………..

BAB I
PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadan alam, benda-benda atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar dari suatu hal tersebut nampak sebagai perilaku belajar yang nampak dari luar.
Pengertian dari belajar sangat beragam, banyak dari para ahli yang mengartikan secara berbeda-beda definisi dari belajar. Di bawah ini akan dikemukakan pandangan beberapa ahli :
1. Dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning (1967), Walker mengemukakan arti sbelajar dengan kata-kata yang singkat yakni belajar merupakan perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman.
2. C.T.Morgan dalam Introduction to Phsycology (1961), merumuskan belajar sebagai suatu perubahan yang relativ menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.
3. Dalam Educational Phsycology : a Realistic Approach (1977), Good&Boophy mendefinisikan belajar merupakan suatu proses yang benar-benar bersifat internal, proses yang tidak bisa dilihat dengan nyata yang terjadi dalam diri individu dalam usaha memperoleh hubungan baru yang berupa antar perangsang, antar reaksi maupun antar perangsang dan reaksi.
4. Crow&Crow (1958) menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan pengetahuan, dan sikap dan dapat memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan.
5. Hintzman (1978) menjelasakan belajar ialah perubahan yang terjadi pada organisme disebabkan pengalaman tersebut yang bisa mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
6. Effendi&Praja (1993) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman, merupakan proses, kegiatan dan bukan tujuan.
7. Atkinson mendefinisikan belajar sebagai perubahanyang relative permanent pada perilaku yang terjadi akibat latihan.
8. Hilgard&Bower dalam Theories of Learning, seperti dikutip Purwanto (1998), mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya berulang-ulang dalam situasi itu dan perubahan tinbgkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan atas kecenderungan respons pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang.
Berdasarkan beberapa rumusan definisi menurut para ahli tersebut diatas, dapat diperjelas bahwa belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakuakan seseorang untuk memperoleh perubahan, baik perubahan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), maupun psikomotor (keterampilan).

BAB II
TEORI-TEORI BELAJAR

A. TEORI BELAJAR KLASIK
Teori belajar klasik didasarkan pada pemikiran para filosifis yang bersifat subyektif:
1. Teori disiplin mental / psikologi fakultas / psikologi unsur
Belajar melalui instropeksi otak mns terdiri atas bagian-bagian yang memiliki tugas berbeda (Berpikir, meraba, fantasi, perasaan, kehendak) jiwa mns terdiri dari unsur-unsur tertentu dan unsur-unsur tersebut disebut dengan daya-daya jiwa. Orang akan dapat belajar jika mentalnya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak.
Pandangan klasik : Orang pintar adalah orang yang menguasai ilmu pasti (logis matematik dan logis bahasa).
2. Teori Humanisme klasik (Maslow)/ Naturalisme (J.J. Rosseou dan Pestalzzi.)
• Maslow
Ia mengumpulkan biografi orang-orang terkenal dari berbagai bidang. Semua orang yang normal berpotensi untuk menjadi orang hebat.
Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh jiwa manusia ada tiga aspek, antara lain : Afeksi, Kognitif, Psikomotor.
• J.J. Rosseou dan Pestalzzi
Anak pada waktu dilahirkan adalah baik, jika anak itu menjadi rusak itu karena pengaruh dari lingkungan disekitar anak tersebut. Karena pada masa itu moral manusia pada level yang terpuruk.
Belajar : Biarlah anak tumbuh kembang secara alamiah, jangan diapa-apakan, freedom to learn : biarlah anak belajar dengan bebas karena orang dapat mengaktualisasi dirinya jika orang tersebut tidak diganggu.
3. Teori Apersepsi dan teori Tabularasa / Impirisme
– Otak manusia seperti wadah yang siap mengkopi (Diisi) dengan apa saja dan pengetahuan yang telah masuk tersebut disebut Apersepsi
– Teori tabularasa / Empirisme oleh Jhon Lock “ Anak bagaikan kertas kosong yang siap ditulis oleh pendidik dan lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap anak itu nantinya”.
• M. David Merril (Kognitif)
Pelajaran diklasifikasikan menjadi 4, antara lain :
1. Fakta
2. Konsep
3. Prosedur
4. Prinsip
Tingkatan yang paling tinggi adalah menemukan prinsip. Tingkatan yang paling rendah adalah mengingat fakta.
Menemukan konsep : Memberikan nama baru untuk barang yang ditemukan.
 Mengingat prosedur : Langkah-lamgkah melakukan sesuatu, misal : cara merebus mie instant.
 Menggunakan prosedur : Melaksanakan perintah dalam mengingat prosedur.
 Mengingat prinsip : Menulis lagi apa yang telah diperoleh, missal : menulis hokum Gosen, teori Konvergensi.
 Menggunakan prinsip : Menggunakan hokum, rumus, dalil untuk menyelesaikan masalah.
 Penemu prinsip : Ilmuwan yang berhasil menemukan dalil yang sampai pada hasil yang generalisasi untuk umum.
Belajar pemahaman konsep dengan menggunakan dua cara, antara lain :
• Pendekatan Deduktif (khusus-umum)
• Pendekatan Induktif (umum-khusus)
• Joseph M. Scandura (Teori Belajar Prosedural)
• Pengalaman tersusun secara hierarkis.
• Jika mengumpul keatas disebut vertical (vertical dan piramida).
• Jika sejajar maka horizontal
• Pengetahuan Deklaratif : Bercerita, harus menggunakan urutan sebab akibat, kronologis.
Setiap isi pelajaran sebelum diajarkan harus diketahui apakah termasuk fakta, prinsip, konsep.
Algoritmik : segala sesuatu ada prosedurnya.
Pengetahuan Prosedural : Jika dipraktekkan oleh siswa dan berhasil tanpamengalami kegagalan.
Keterangan intelektual menurut Gagne
Diskriminasi, konsep, kongkrit, konsep terdefinisi, kaidah atau aturan, aturan tingkat lebih lanjut. Jika mencapai level tertinggi maka dikatakan sebagai kesiapan untuk memecahkan suatu masalah.
• Lev N. LandaTeori Belajar Pembelajaran
Teori belajar hampir selalu bersifat deskriptif karena selalu berbicara apa yang terjadi jika sesuatu dilakukan. Apabila akan belajar disuatu kelas yang begini maka lakukan hal ini jika ingin hasilnya baik (Prespektif)
Heuristik : Siswa menemukan sendiri cara penyelesaian belajar atau masalah.
Algoheuristik : Menemukan sendiri cara penyelesaian dalam suatu masalah dengan procedural srtinya diarahkan oleh guru dalam pemecahan suatu masalah.
• Charles M. Reigeluth dan Faith S. Stein
Tiga aliran utama dalam teori belajar, antara lain :
1. Behaviorisme
2. Kognitiv
3. Naturalisme

BAB III
TEORI MODERN

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

A. Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
 Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
 Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
 Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
 Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
 Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
 Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberianreward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
 Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
 Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
 Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
 Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
 Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
D. Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1) Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2) Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3) Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4) Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a) Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c) Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d) Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e) Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dabutan, Jelarwin. 2008 .Srategi Pembelajaran Quantum Teaching dan Quantum Learning. Online. http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=75.
Depdiknas.2007.PembelajaranKontekstual.Online. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/pembelajaran-kontekstual/.
Gasong, Dina. 2009. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai Alternative Mengatasi Masalah Pembelajaran. Online. http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Diunduh 28 Desember 2009.
Herdian.2007.ModelPembelajaran Quantum. Online. http://herdy07.wordpress.com/2009/04/29/model-pembelajaran-quantum/.
Nurhasni.2008.AcceleratedLearning.Online.
http://nurhasni-blogkuyess.blogspot.com/2008/10/accelerated-learning.html.
Pembelajaran-guru. 2008. Enam Keunggulan Penggunaan Pandangan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran.Online.Availableat http://pembelajaranguru.wordpers.com/2008/05/31/konstruktivisme-6-keunggulan-penggunaan-pandangan-konstruktivisme-dalam -pembelajaran/. Diunduh 28 Desember 2009.
Rahayu, Listiyani. 2009. Lomba Inovasi Pembelajaran. Online. Available at.
http://Listianirhy.Wordpress.Com/2009/11/30/Lomba-Inovasi-Pembelajaran/.
Saryono, Djoko. 2007 . Pembelajaran Kuantum Sebagai Model Pembelajaran yang Menyenangkan. Online.
http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/11/pembelajaran-kuantum-sebagai-model-pembelajaran-yang-menyenangkan/..
Suciptoardi.2007.Konstruktivisme dan Pembelajaran. Online.
http://suciptoardi.wordpress.com/2007/12/04/48/. Diunduh 29 Desember 2009.
Sugiyanto. 2008. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon B.
Sunaryo. 2008. Ketrampilan Dasar Mengajar. online. Available at
http://www.docstoc.com/docs/8116106/Keterampilan-Dasar-Mengajar.

by kholis4

BAB I
PENDAHULUAN

Sejak isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada era sebelumnya. Salah satu gagasan yang muncul adalah lahirnya UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang meletakkan sektor pendidikan sebagai salah satu sektor pembangunan yang berbasis kedaerahan lainnya dan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai pengganti UU No. 2 tahun 1989.[1] Kedua undang-undang tersebut membawa perspektif baru yang amat revolusioner dalam konteks perbaikan sektor pendidikan, yang mendorong pendidikan sebagai urusan publik dan urusan masyarakat baik dalam kebijakan kurikulum, manajemen maupun berbagai kebijakan pengembangan institusi pendidikan itu sendiri.
Arah reformasi dalam mewujudkan pengembangan pendidikan terkait dengan kebijakan kurikulum adalah ikut diperbaharuinya kurikulum yang ada sebelumnya dari kurikulum 1994 diperbaharui menjadi kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Selang dua tahun kemudian KBK pun telah mengalami pembaharuan kembali menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) atau kurikulum 2006. Dari perubahan yang terjadi, menurut Ki Supriyoko, mengatakan bahwa ganti kurikulum sebagai problem baru pendidikan. Semisal berkaitan dengan waktu, penggantian kurikulum di Indonesia terdapat semacam konvensi bahwa penggantian kurikulum biasanya dilakukan sekitar sepuluh tahun dari masa berlakunya, kurikulum 1975 usianya sembilan tahun ketika diganti dengan kurikulum 1984. Kurikulum 1984 usianya sepuluh tahun ketika diganti dengan kurikulum 1994 dan kurikulum 1994 usianya sepuluh tahun ketika diganti dengan KBK atau kurikulum 2004. Namun, menimbulkan suatu pertanyaan, ketika KBK diganti KTSP. KBK yang seharusnya diganti sekitar tahun 2014, tetapi dalam jangka waktu dua tahun sudah berganti dengan KTSP.
Oleh karena itu, problem pendidikan di Indonesia masih cukup kompleks. Di mana hal itu membutuhkan pemecahan yang serius dan kontinyu. Sehingga outcome pendidikan tersebut berkwalitas dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman yang global serta tidak lepas dari nilai-nilai etika-moral yang ada. Dengan kata lain, tercipta insan seutuhnya. Dengan demikian, penulis mencoba untuk menggali problem yang terdapat dalam dunia pendidikan, khususnya kurikulum. Apalagi, kurikulum merupakan salah satu bagian penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum, khususnya di Indonesia, apakah perubahan atau pembaharuan itu didasarkan atas perkembangan atau kebijakan dari pemerintah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Kurikulum yang berasal dari kata curriculum yang berarti lintasan untuk balap kereta kuda yang biasa dilakukan oleh bangsa Romawi pada zaman kaisar Gaius Julius Caesar di abad pertama tahun masehi. Namun, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan suatu konsep yang abstrak.[3] Sehingga kemudian melahirkan banyak pengertian tentang kurikulum, diantaranya:
Schubert berpendapat sederhana bahwa kurikulum sebagai mata pelajaran, muatan hasil belajar, adanya unsur reproduksi kebudayaan dan pembangunan sosial, serta pentingnya kecakapan hidup.
Kurikulum merupakan seperangkat rancangan nilai, pengetahuan dan ketrampilan yang harus ditransfer kepada peserta didik dan bagaimana proses transfer tersebut harus dilaksanakan.
Kurikulum sebagai sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum merupakan suatu cara untu mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakatnya.
Beragam pengertian tersebut selalu akan menampilkan hal-hal yang berbeda, bahkan sering pula bertentangan. Namun, pada dasarnya sama sebagai bentuk upaya untuk memberikan atau menggali pengetahuan, pengalaman yang ada dalam diri masing-masing peserta didik agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih gemilang dengan materi, metode, fasilitas yang telah ada.
Sementara itu, Mochtar Buchori mengatakan bahwa kurikulum sebagai blue print (cetak biru), sebagai suatu penggambaran terhadap sosok manusia yang diharapkan akan tumbuh setelah menjalani semua proses pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang digariskan dalam kurikulum. Ibarat suatu proses pendirian bangunan kurikulum merupakan sketsa awal yang menggambarkan bangunan tersebut akan didirikan dalam bentuk model yang telah dibayangkan dan diinginkan oleh pemiliknya. Adapun kuatnya suatu bangunan, bagusnya suatu model yang telah digambarkan sebelumnya sangat bergantung kepada kecanggihan para tukang yang menggarap bangunan tersebut, termasuk juga mutu meteri yang digunakan untuk mendirikan bangunan itu. Para tukang ini sebagai pendidik, sedangkan materi bangunan ialah seluruh bahan yang digunakan untuk melaksanakan proses pendidikan terhadap siswa yang sedang menjalani proses pertumbuhan menjadi sosok manusia ideal yang dicita-citakan. Dengan demikian, kurikulum bukanlah satu-satunya faktor penentu yang mendukung lahirnya jati diri seseorang di masyarakat di kemudian hari. Meskipun begitu, kurikulum menjadi perangkat yang strategis untuk menyemaikan kepentingan dan membentuk konsepsi dan perilaku individu masyarakat.

B. RAGAM KURIKULUM DI INDONESIA
Melongok kondisi Indonesia jika membicarakan pendidikan apalagi persoalan kurikulum untuk saat ini sangat kompleks. Beragam kurikulum yang pernah ada di Indonesia ternyata masih belum mampu memberikan solusi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kondisi seperti itu seiring dengan di tandai oleh rendahnya mutu kelulusan, fasilitas dan sarana yang kurang memadai, serta banyak hal lain yang melingkupi problematika pendidikan kita. Begitu kompleksnya problem pendidikan di Indonesia berujung kepada keprihatinan terhadap kualitas sumber daya manusianya. Sebagai catatan Human Development Report tahun 2003 versi UNDP menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia berada di urutan 112, jauh di bawah Filipina (25), Malaysia (58), Brunai Darussalam (31) dan Singapura (28).[9] Kenyataan seperti ini mengharuskan bangsa Indonesia untuk melakukan pembenahan-pembenahan, khususnya sektor pendidikan. Karena dengan pendidikan itu akan mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, mandiri serta mampu menghadapi beragam tantangan zaman.
Kurikulum sebagai rancangan, disaign dengan segala bentuk materi, pelaksana, fasilitas dan sebagainya yang mampu membentuk dan mencetak generasi atau SDM yang sesuai dengan cita-cita atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini menunjukkan peran penting kurikulum demi kemajuan bangsa. Akan tetapi, konsep atau sketsa kurikulum yang ideal tanpa didukung oleh pelaksana yang handal dan segala fasilitas yang memadai tentu nonsen akan menghasilkan mutu yang bagus sesuai harapan.
Dalam kaitanya dengan kurikulum ini perlu kita ketahui bahwa berdasarkan perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia telah terdapat beberapa kurikulum yang pernah dilalui dan itu telah mengalami banyak perubahan sesuai dengan kondisi saat itu, di antaranya: tahun 1947, 1952, 1968, 1984, 1994 dan tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
a. Kurikulum 1968 dan sebelumnya
Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

b. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut :
Berorientasi tujuan
Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
Menekankan kepada efisiensi dan efektifitas dalam hal daya dan waktu.
Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan prosedur pengembangan sistem instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
Dipengaruhi pseikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang jawab) dan latihan (drill).
Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratkan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itula pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

c. Kurikulum 1984
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya sebagai berikut:
 Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang berlum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
 Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampan anak didik.
 Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaanya di sekolah.
 Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan di setiap jenjang.
 Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk pendidikan luar sekolah.
 Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Atas dasar perkembangan itu, maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. Oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
 Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.
 Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
 Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
 Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.
 Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.

d. Kurikulum 1994
Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:
 Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
 Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
 Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
 Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
 Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
 Pengajaran dari hal yang konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
 Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:
 Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
 Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Permasalahan di ats saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
 Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
 Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
 Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
 Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan brbagai aspek terkait, seperti tujuan materi pembelajaran, evaluasi dan sarana-prasarana termasuk buku pelajaran.
 Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

e. Kurikulum 2004
Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.
Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.

Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:
 Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
 Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
 Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
 Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
 Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.[15]

Untuk itu, agar KBK mampu konsisten dan valid dalam operasionalnya, terdapat beberapa asumsi-asumsi yang mampu tercapainya hal tersebut:
 Banyak sekolah yang memiliki sedikit guru profesional dan tidak mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal.
 Banyak sekolah yang hanya mengoleksi sejumlah mata pelajaran dan pengalaman, sehingga mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.
 Peserta didik bukanlah tabung kosong atau kertas putih yang dapat diisi atau ditulis sekehendak guru, melainkan individu yang memiliki sejulah potensi yang berlu dikembangkan.
 Peserta didik memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi, dalam hal tertentu memiliki potensi tinggi, tetapi dalam hal lain, mungkin biasa saja, bahkan rendah.
 Pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan yang membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki secara optimal.
 Kurikulum sebagai rencana pembelajaran harus berisi kompetensi-kompetensi potensial yang tersusun secara sistematis, sebagai jabaran dari seluruh aspek kepribadian peserta didik.
 Kurikulum sebagai proses pembelajaran harus menyediakan berbagai kemungkinan kepada seluruh peserta didik untuk mengembangkan berbagai peristiwanya.[16]

f. Kurikulum 2006
Kurikulum ini dikatakan sebagai perbaikan dari KBK yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:
o Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
o Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
o Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
o Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
o Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. .
Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan KBK tahun 2004 dengan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga pengembangan silabusnya

C. PEMBAHARUAN MENGIKUTI PERKEMBANGAN ATAUKAH KEBIJAKAN?
Dari berbagai kurikulum yang dilalui oleh Indonesia ini, kiranya dapat ditelisik bahwa kurikulum tersebut mengalami pembaharuan dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan kondisi zaman yang menuntut memang suatu kurikulum harus berubah ataukah terdapat suatu presser dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan? Problem seperti ini bukan suatu hal baru bagi pendidikan kita. Pada era sebelum reformasi banyak kalangan, para pakar pendidikan mengkritik hal itu dengan istilah ganti menteri, ganti kebijakan[18]. Tetapi untuk saat ini, akankah hal tersebut terjadi pula? Jika pendapat tokoh pendidikan Ki Supriyoko sebagaimana tersebut sebelumnya, bahwa pergantian kurikulum biasanya terjadi sepuluh tahun kemudian dari kurikulum sebelumnya, namun jika kita menyoroti KBK ke KTSP atau kurikulum 2004 ke kurikulum 2006 menunjukkan kurang dari sepuluh tahun, tentu akan muncul suatu pertanyaan, mengapa?
Kalau kita mencermati secara mendalam implementasi KBK pada tingkat grassroot, yakni sekolah sebagai pelaksana dari KBK tersebut. Pada kenyataanya tidak setiap sekolah sudah mampu melaksanakan KBK ini, bahkan mungkin sekolah tersebut masih taraf trial and error terhadap KBK. Karena kurangnya dukungan dari SDM sekolah tersebut yang belum menguasai tentang KBK. Nah, apakah ini tidak secara langsung menunjukkan bahwa penentu kebijakan tersebut terlalu tergesa-gesa dalam mengadakan perubahan, tanpa harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, misal ketidaksiapan para tukang didik (pendidik/guru) yang akan terjun langsung mengoperasikan mesin pendidikan. Karena suatu konsep yang ideal tetapi belum mampu teraplikasikan dalam realita akan menghasilkan suatu kesia-siaan. Tentu menjadi renungan bagi kita.
Menurut, S. Nasution bahwa pembaharuan kurikulum mengikuti dua prosedur, yaitu Administrative approach dan grass roots approach. Administrative approach, yaitu suatu perubahan atau pembaharuan yang direncanakan oleh pihak atasan untuk kemudian diturunkan kepada instansi-instansi bawahan sampai kepada guru-guru, jadi from the top down, dari atas ke bawah, atas inisiatif para administrator. Yang kedua, grass roots approach, yaitu yang dimulai dari akar, from the bottom up, dari bawah ke atas, yakni dari pihak guru atau sekolah secara individual dengan harapan agar meluas ke sekolah-sekolah lain.[19] Namun, pola seperti itu bergantung kepada pengelolanya, yakni pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Dan bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Kita tentu dapat obyektif dalam mencermatinya.

BABIII
PENUTUP

Sudah bukan hal baru lagi bagi kita bangsa Indonesia dalam mengkaji dan memperdebatkan tentang problematika kurikulum di Indonesia. Karena kondisi perkembangan pendidikan di Indonesia, bahkan mungkin di belahan negara lain mengalami problem yang sama. Secara tidak langsung pendidikan tersebut mampu menyepadani dengan tuntutan kondisi zaman yang berkembang begitu cepat. Apalagi disertai dengan perkembangan arus informasi dan teknologi, tidak bisa tidak, kondisi seperti ini akan menuntut perubahan dalam pendidikan. Di mana hal itu nantinya akan berefek kepada perubahan kurikulum, sebagai main concept, sketsa, blue print kemanakah pendidikan kita, generasi kita akan dibawa?
Berkaitan dengan perubahan, pembaharuan dan perbaikan pendidikan (kurikulum) membutuhkan peran serta berbagai pihak. Akan tetapi hal itu tidak sampai mengesampingkan antara satu pihak dengan pihak lain. Agar dalam mewujudkan perubahan dan pembaharuan dapat sejalan dengan baik, serasi dan harmonis. Sehingga apa yang menjadi tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

http://education-indonesia.blogspot.com/2007/05/kurikulum-beridentitas-kerakyatan.htm

http://rbaryans.wordpress.com/2007/05/16/bagaimanakah-perjalanan-kurikulum-nasional-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/

http://re-searchengines.com/0607agung.html

http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/20/opi03.htm

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik,, Implementasi dan Inovasi, Bandung: Remaja Rosdakaraya, 2004.

Nasution, S., Azas-Azas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Rahmadhi, Slamet, Masalah Pendidikan di Indonesia, Jakarta: CV Miswar, 1989.

Rosyada, Dede, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2004.

Suparman, M. Atwi, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum, Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 2001.

Widiastono, Tonny D., Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.

Yulaelawati, Ella, Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi, Bandung: Pakar Raya, 2004.

Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: BIGRAF Publishing, 2000.

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.